Rabu, 18 Juli 2012

Makalah Akhlak Tasawuf : Kontribusi Akhlak Tasawuf Bagi Pendidikan Islam


MAKALAH
AKHLAK TASAWUF
KONTRIBUSI AKHLAK TASAWUF BAGI PENDIDIKAN ISLAM




 

DISUSUN OLEH

NAMA: SELAMAT ANWAR SADAT
KELAS: II A
NIM: 15.1.11.1.024

DOSEN PENGAMPU: LESTARI, S.Fil. MA




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2012




LATAR BELAKANG

Akhlak tasawuf adalah merupakan salah satu khazanah intelektual muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara historis dan teologis akhlak tasawuf  tampil mengawali dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad Saw. adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam al-qur’an.
Khazanah pemikiran dan pandangan di bidang Akhlak dan Tasawuf itu kemudian menemukan momentum pengembangannya dalam sejarah, yang antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawuf dan ulama di bidang Akhlak. Mereka tampil pada mulanya untuk memberi koreksi pada perjalanan umat saat itu yang sudah mulai miring kearah yang salah. Mereka mencoba meluruskan, dan ternyata upaya mereka disambut positif karena dirasakan manfaatnya. Untuk melestarikan pemikiran dan pendapatnya itu mereka menulis sejumlah buku yang secara khusus membahas masalah Akhlak Tasawuf. Kitab Tahzib Al-Akhlaq karangan Ibn Miskawaih, Ihya’ Ulum Al-Din karangan Imam Al-Gazali, dan belakangan muncul kitab Al-Akhlak karangan Ahmad Amin, dan Khuluq Al-Muslim, karangan Al-Ghazali adalah merupakan bukti kepedulian para ulama terhadap bidang akhlak tasawuf.
Karya-karya mereka itu kemudian mendorong para orientalis untuk meneliti dan menganalisis berbagai pemikiran Akhlak Tasawuf tersebut, dan ini pada perkembangan selanjutnya membuka kearah munculnya studi Ilmu Akhlak Tasawuf. Sebelum itu hasil penelitian para ulama islam terhadap al-qur’an dan al-hadis menunjukkan, bahwa hakikat agama islam itu adalah akhlak.
Perhatian terhadap pentingnya Akhlak Tasawuf kini muncul kembali, yaitu di saat manusia di zaman modern ini di hadapkan pada masalah moral dan akhlak yang cukup serius, yang kalau dibiarkan akan menghancurkan masa depan bangsa yang bersangkutan. Praktek hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan dengan mengambil bentuk perbuatan sadis dan merugikan orang lain kian tumbuh subur di wilayah yang tak berakhlak dan tak bertasawuf. Korupsi, kolusi, penodongan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan perampasan hak-hak asasi manusia pada umumnya terlalu banyak yang dapat dilihat dan disaksikan. Cara mengatasinya bukan hanya dngan uang, ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus dibarengi dengan penanganan di bidang mental spiritual dan akhlak yang mulia.
Sejalan dengan itu munculnya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern disamping menawarkan berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup, juga membuka peluang untuk melakukan kejahatan lebih canggih lagi, jika ilmu pengetahuan dan teknologi itu disalahgunakan. Kemampuan teknologi dibidang rekayasa genetika misalnya, telah membuka peluang manusia memproduk manusia untuk di perjual belikan seperti halnya binatang atau buah-buahan. Demikian pula kemajuan dibidang telekomunikasi disamping memberi kemudahan juga dapat disalahgunakan untuk mendukung kegiatan atau jaringan kejahatan dan sebagainya. Orang mengharapkan agar iptek bermanfaat bagi manusia, dan caranya antara lain melalui pengembangan iptek yang berwawasan moral.
Bersamaan dengan itu perkembangan teknologi di bidang alat-alat anti hamil, makanan, minuman dan obat-obatan telah membuka peluang terciptanya kesempatan untuk membuat produk alat-alat, makanan, minuman, dan obat-obatan terlarang yang menghancurkan masa depan generasi muda. Tempat-tempat beredarnya obat-obat terlarang semakin canggih. Demikian juga sarana yang membawa orang lupa pada Tuhan, dan cenderung maksiat terbuka lebar di mana-mana. Semua ini semakin menambah beban tugas Akhlak Tasawuf.
Tasawuf yang oleh sebagian orang dianggap mengandung unsur penyimpangan dari syari’at islam dan di daulat sebagai biang keladi pembawa kemunduran pendidikan islam ternyata tidak dapat di buktikan. Ajaran tasawuf dapat di lacak dasar-dasarnya secara jelas dalam Al-qur’an dan al-sunnah dan sebagian besar para ulama telah membuktikan dengan jelas.
Melihat demikian pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan dan pendidikan bahkan bagi kemajuan peradaban islam, maka kita sangat perlu mempelajari akhlak tasawuf sebagai pertahanan untuk menghadapi kehidupan yang semakin memanjakan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin hari semakin canggih dan juga tidak langsung memvonis bahwa penyebab kemunduran pendidikan islam adalah karena tasawuf tanpa melihat atau meneliti kembali apakah tasawuf itu benar-benar tidak punya kontribusi bagi kemajuan peradaban islam dan supaya kita sebagai umat islam tidak terkesan hanya mencari cacat-cacat dari tasawuf itu sendiri tanpa mencari kelebihan-kelebihan dan kontribusinya bagi kemajuan peradaban islam.



PEMBAHASAN
1.      SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Aktivitas pendidikan islam timbul sejak adanya manusia itu sendiri (Nabi Adam dan Hawa), bahkan ayat pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah bukan perintah tentang shalat, puasa, dan lainnya, tetapi justru perintah iqra’ (membaca, merenungkan, menelaah, meneliti, atau mengkaji) atau perintah untuk mencerdaskan kehidupan manusia yang merupakan inti dari aktifitas pendidikan. Dari situlah manusia memikirkan, menelaah dan meneliti bagaimana pelaksanaan pendidikan itu, sehingga  munculah pemikiran dan teori-teori pendidikan islam. Karena itu, Ubud (1977) menyatakan bahwa tidak mungkin ada kegiatan pendidikan islam dan sistem pengajaran islam, tanpa adanya teori-teori ilmu dan filsafat pendidikan islam. Pandangan tersebut di perkuat oleh Langgulung (1988).[1]
Dalam catatan sejarah, eksistensi pendidikan islam telah ada sejak islam pertama kali diturunkan. Ketika Rasulullah Saw. mendapat perintah Allah Swt. Untuk menyebarluaskan ajaran islam, maka apa yang dilakukannya, jelas masuk dalam kategori pendidikan. Bagi umat islam, Rasulullah adalah guru agung. Kepribadiannya merupakan perwujudan ideal islam tentang seorang guru dan pendidik. Dalam al-qur’an, ayat yang pertama diturunkan berhubungan langsung dengan pendidikan. Perintah membaca (iqra) sebagimana wahyu pertama surah Al-Alaq, jelas mengandung nilai filosofi yang menjadi dasar bagi kegiatan pendidikan. Hal tersebut berarti menunjukkan penekanan dan pandangan Al-qur’an terhadap pentingnya ilmu pengetahuan.[2]
Ketika di Mekah, proses pendidikan islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di Darul Arqam,  sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Di Madinah, setelah Rasulullah hijrah, beliau membangun masjid yang tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat pendidikan. Di masjid ini pula terdapat apa yang disebut shuffah yang berfungsi sebagi tempat pendidikan, sekaligus tempat tinggal bagi orang yang tidak memiliki rumah, pendatang baru atau orang yang datang kesana khusus untuk menuntut ilmu. Keberadaan shuffah sebagai sarana pendidikan dan dakwah sangat terasa penting. Kebijakan lain yang dilakukan nabi dalam memajukan pendidikan umat islam adalah melalui pemanfaatan tawanan perang badar. Sejumlah tawanan yang dapat menulis dan membaca di lepaskan setelah masing-masing mengajari sepuluh anak muslim untuk menulis dan membaca.[3]
Pada era ini, umat islam juga sudah mengenal lembaga kuttab yang berfungsi sebagi tempat pengajaran pokok-pokok agama dan tulis baca. Pendekatan yang dilakukan Rasulullah kemudian diikuti oleh para khalifah sesudahnya, memperhatikan perkembangan pendidikan bagi umat islam. Semenjak wafatnya Rasulullah, selain ayat dalam Al-qur’an, hadis pun mendapat perhatian yang serius dalam pendidikan islam. Di dorong dengan semakin kompleksnya tuntutan kehidupan umat islam maka ruang lingkup pendidikan islam berkembang pesat, yakni dengan tumbuhnya berbagai disiplin ilmu seputar kajian ajaran agama islam.[4] Tidak sampai di sini, pendidikan islam terus berlanjut sampai Dinasti Umayyah dan Abbasyiah. Dimana pada Dinasti Umayyah disebut sebagai periode pertumbuhan pendidikan islam yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah serta benih-benih kemajuan pendidikan islam sudah mulai terlihat, dan mencapai puncak kejayaan (keemasan) pada Dinasti Abbasyiah yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu akliah dan timbulnya madrasah-madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan islam.[5]

2.      FUNGSI PENDIDIKAN ISLAM[6]
1)      Mengembangkan pengetahuan teoritis, praktis, dan fungsional bagi peserta didik
2)      Menumbuh kembangkan kreativitas, potensi-potensi atau fitrah peserta didik
3)      Meningkatkan kualitas akhlak dan kepribadian atau menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan nilai ilahi
4)      Menyiapkan tenaga kerja yang produktif
5)      Membangun peradaban yang berkualitas (sesuai dengan nilai-nilai islam) dimasa depan.
6)      Mewariskan nilai-nilai ilahi dan nilai-nilai insani kepada peserta didik

            Pendidikan memiliki fungsi yang sangat menentukan bagi manusia dalam melaksanakan tugas-tugas kehambaannya. Makna terpenting pendidikan bagi manusia dalam menegakkan fungsi kehambaan ini adalah bahwa pendidikan harus mampu mmemberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh manusia untuk melaksanakan fungsi kehambaan dan kekhalifahannya dengan sempurna. Pendidikanlah yang mampu memberikan manusia makna kehidupan. Tinggi rendahnya kualitas pendidian yang dimiliki seorang manusia, akan berpengaruh signifikan dalam melaksanakan tugas kehambaan dan kekhalifahannya. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan dalam maknanya yang formal, akan tetapi pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Pendidikan formal, apapun bentuk dan tingkatannya bukanlah variabel satu-satunya untuk mengukur kualitas kemanusiaan manusia. [7]
            Indikator manusia terdidik menurut al-qur’an diukur pada kualitas iman dan ilmu, sebagaimana difirmankan  Allah Swt. Sebagai berikut :


Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu pengetahuan diantara kamu beberapa derajat.[8]
            Fungsi pendidikan yang paling substansial bagi manusia adalah mewujudkan manusia menjadi pribadi-pribadi yang bermakna, yakni pribadi yang memiliki potensi dan mampu mengembangkan potensi dirinya untuk menangkap dan memberi makna kehidupan. [9]

3.      TUJUAN UMUM PENDIDIKAN ISLAM[10]
            Al-Abrasyi (1969 : 71) dalam kajiannya tentang pendidikan islam telah menyimpulkan lima tujuan umum pendidikan islam, yaitu :
1)      Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia
2)      Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat karena pendidikan islam bukan hanya menitikberatkan pada keagamaan saja atau pada keduniaan saja tetapi pada keduanya.
3)      Persiapan untuk mencapai rizki dan pemeliharaan segi manfaat atau lebih terkenal sekarang ini dengan nama tujuan-tujuan vokasional dan professional
4)      Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keinginan tahu (curiosity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri
5)      Menyiapkan pelajar dari segi professional, teknikal dan pertukaran supaya dapat menguasai profesi tertentu dan keterampilan pekerjaan tertentu agar dapat ia mencari rizki dalam hidup disamping memelihara segi kerohanian dan keagamaan.

4.      KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP PENDIDIKAN DALAM PANDANGAN SARJANA BARAT

            Para tokoh pendidikan di dunia barat telah melakukan perdebatan panjang seputar persoalan pendidikan , yaitu apakah pendidikan itu di butuhkan atau tidak di butuhkan oleh manusia dalam kehidupannya sehingga melahirkan beragam aliran dalam pendidikan, seperti empirisme, nativisme, naturalisme dan konvergensi.

1)      Empirisme[11]
Empirisme dipelopori oleh Jhon Lock (1632-1740) dengan teori “Tabularasa”. Paham empirisme berkembang luas di dunia barat terutama di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, paham ini menjelma dalam aliran behaviorisme, yang dipelopori oleh William James dan Lange. Teori ini berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan jiwa yang kosong. 
Manusia dilahirkan tanpa potensi dasar apapun sehingga jiwanya diibaratkan seperti meja lilin atau kertas putih yang bersih tanpa noda. Pendidikanlah yang sangat berperan dalam membentuk dan  mewarnai jiwa manusia. Apabila manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya menerima pendidikan yang baik, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang bermutu. Sebaliknya, apabila dalam pertumbuhannya ia menerima  pendidikan-pendidikan yang buruk, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang buruk.

2)      Nativisme[12]
Nativisme dipelopori oleh Schopenhauer berkebangsaan jerman (1788-1880). Paham ini merupakan antitesa terhadap paham sebelumnya (empirisme). Paham ini berpendapat bahwa setiap anak manusia dilahirkan, sudah membawa potensi-potensi tertentu yang berupa bakat, minat, serta kecenderungan-kecenderungan tertentu yang bersifat hereditas (keturunan).           Potensi dan kecenderungan-kecenderungan tersebut merupakan faktor determinan yang menenetukan baik dan buruk nya perkkembangan dan pertumbuhan anak manusia dalam kehidupannya. Bila potensi dan kecenderungannya yang dibawanya sejak lahir baik, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Sebaliknya, bila potensi dan kecenderungan yang dibawanya buruk, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang buruk.

3)      Naturalisme[13]
            Paham naturalisme dipelopori oleh filosof Perancis, JJ. Rousseu (1712-1778). Paham ini berpendapat bahwa setiap manusia yang lahir sudah memiliki pembawaan-pembawaan yang bersifat alamiah. Manusia dilahirkan dengan kemampuan pembawaan yang cenderung kearah yang baik, tidak ada unsur-unsur pembawaan yang cenderung ke arah yang buruk atau jahat. Pertumbuhan dan perkembangan manusia akan mengalami kerusakan jika dicampuri oleh penagruh faktor lingkungan atau pendidikan.

4)      Konvergensi[14]
            Konvergensi dipelopori oleh William Stern (1871-1939) dan berkembang Eropa Daratan (jerman). Paham ini berpendapat bahwa baik buruknya pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi secara simultan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal yang terdapat dalam dirinya berupa bakat, minat, dan unsur-unsur hereditas yang diturunkan oleh orang tua serta faktor-faktor eksternal berupa pengalaman, pendidikan dan lingkungan sekitar.

5. 
     SEKILAS TENTANG AKHLAK TASAWUF

            Akhlak merupakan hiasan diri yang membawa keuntungan bagi yang mengerjakannya. Ia akan disukai Allah dan disukai umat manusia dan makhluk lainnya. Di dalamnya ternyata memberikan bimbingan yang optimal yang secara batiniah dapat mengintegrasikan jiwa manusia.[15]
            Akhlak yang ditawarkan islam berdasarkan nilai-nilai mutlak yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-hadis. Namun dalam pelaksanaannya akhlak dalam islam itu memerlukan penjabaran dan pengembangan yang dihasilkan akal manusia melalui usaha ijtihad. Pemikiran dalam bentuk konsep etika, moral dan susila dapat digunakan untuk menjabarkan berbagai ketentuan akhlak yang bersifat mutlak, universal dan general yang ada dalam al-qur’an dan hadis. [16]
            Dalam kitab Adab al-Dunya wa al-Din, Al-Mawardi mengatakan bahwa agama tanpa Akhlak tasawuf tidak akan hidup, bahkan akan kering dan layu. Ia juga mengatakan bahwa seluruh ajaran Al-qur’an dan al-hadis pada ujungnya menghendaki perbaikan akhlak dan mental spiritual.[17]
            Melalui bimbingan akhlak yang baik dengan orang tua sebagai pemeran utamanya, manusia akan dapat di hantarkan pada tingkah laku yang mulia. Akhlak islam telah memberi petunjuk yang jelas tentang bagaimana cara orang tua membina putera-puterinya menjadi baik, namun hal ini kurang dapat di laksanakan secara konsisiten dan kontinu.[18]
            Dalam pada itu, tasawuf yang di bangun oleh para ulama sufi juga mengandung nilai-nilai luhur yang berhubungan erat dengan pembinaan akhlak yang mulia. Untuk itulah, tidaklah salah jika antara akhlak dan tasawuf di sandingkan secara berdampingan untuk bahu membahu membimbing manusia kepada kehidupan yang ideal sebagaimana terlihat dalam konsep insan kamil dalam pembahasan akhlak tasawuf.[19]
            Tasawuf yang oleh sebagian orang dianggap mengandung unsur penyimpangan dari syari’at islam dan di daulat sebagai biang keladi pembawa kemunduran pendidikan islam ternyata tidak dapat di buktikan. Ajaran tasawuf dapat di lacak dasar-dasarnya secara jelas dalam Al-qur’an dan al-sunnah dan sebagian besar para ulama telah membuktikan dengan jelas.[20]
            Sebagai sebuah ilmu hasil ijtihad manusia, Akhlak Tasawuf sama dengan ilmu lainnya. Di sana ada kekurangan, kelemahan, dan keganjilan, dan di sana pula ada kelebihan, kekuatan dan keistimewaan. Kiranya cara yang bijaksana yang perlu kita tempuh adalah apabila kita mengambil kelebihan, dan meluruskan paham-paham yang kurang proporsional. Sikap yang adil ini tampaknya belum banyak berkembang dikalangan masyarakat.[21]

6.   
    KONTRIBUSI AKHLAK TASAWUF BAGI PENDIDIKAN ISLAM

            Apabila islam di pandang sebgai agama tauhid yang memadukan aspek esoterik dan aspek eksoterik, maka tasawuf sebagai bagian dari peradaban islam lebih menekankan aspek esoteriknya. Tasawuf, bagaikan jantung manusia, adalah sumber kehidupan batiniah dan pusat yang mengatur keseluruhan organisme keagamaan islam. Jika islam di ibaratkan sebagai tubuh, maka tasawuf adalah jantungnya. Itulah mengapa para pembela tasawuf mengatakan bahwa tasawuf adalah “jantung risalah Islam” atau “jantung Islam”.[22]
            Sebagai sebuah disiplin keilmuan islam tradisional, tasawuf baru muncul pada abad II H/XIII M, atau paling tidak dalam bentuk lebih jelas pada abad III H/X M. Namun, sebagai pengalaman spiritual, tasawuf telah ada sejak adanya manusia. Usianya setua usia kebangkitan kesadaran manusia. Semua rasul, nabi, wali adalah sufi, yang tidak lain dari manusia sempurna (insan kamil). Nabi Muhammad adalah sufi terbesar karena beliau adalah manusia sempurna yang paling sempurna. Tasawuf bersumber dari al-qur’an dan al-sunnah. Tasawuf tidak dapat dipisahkan dari islam karena tasawuf adalah jantung islam.[23]
            Tasawuf sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban islam patut mendapat apresiasi karena ia telah memberikan sumbangan besar bagi peradaban islam.  Namun demikian, tasawuf tidak bisa lepas dari kritik karena ia telah menderita cacat-cacat yang membuat citra dirinya buruk yang merugikan peradaban islam.
Menurut Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Tasawuf Syarif Hidayatullah Jakarta) bahwa apresiasi pantas di berikan terhadap tasawuf karena sumbangan-sumbangannya yang dapat bernilai bagi pengembangan peradaban islam. Sumbangan itu dapat dilihat dalam berbagai bidang seperti filsafat, sastra, musik, tarian, psikologi dan sains modern.[24]

1)      Bidang Filsafat Islam[25]
            Tasawuf memiliki sumbangan yang besar dalam pengembangan filsafat islam, khususnya metafisika, yang mencakup konsep-konsep ontologis, teologis, kosmologis, dan antropologis. Konsep filosofi kunci sufi yang besar sumbangannya bagi metafisika adalah Wahdatul Wujud (kesatuan wujud). Wahdatul wujud adalah doktrin bahwa tidak ada sesuatu pun dalam wujud kecuali Tuhan; hanya ada Satu Wujud Hakiki, yaitu Tuhan, yang oleh Ibn ‘Arabi sering disebut al-Haqq. Segala sesuatu selain Tuhan tidak ada pada dirinya sendiri; ia hanya ada sejauh memanifestasikan Wujud Tuhan. Alam adalah lokus penampakan diri Tuhan. Manusia sempurna (al-insan al-kamil) adalah mikrokosmos, yang merupakan lokus penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Di dalam sistem Ibn ‘Arabi penampakan diri (tajalli) Tuhan merupakan salah satu ajaran sentral. Alam tidak mempunyai wujud sendiri kecuali wujud pinjaman, wujud yang berasal, “melimpah” atau “memancar”, dari Tuhan. Al-Haqq (Tuhan) dan al-khalq (alam) adalah satu tetapi bukan satu, identik tetapi bukan identik. Doktrin Wahdatul Wujud tidak hanya sisi tasybih (similarity, keserupaan), tetapi juga sisi tanzib (incomparability, ketidak-dapat-dibandingkan).
            Sumbangan tasawuf bagi pengembangan metafisika islam dapat ditemukan pada tasawuf mazhab wahdatul wujud yang dianggap didirikan oleh Ibn ‘Arabi. Sekalipun Ibn ‘Arabi adalah seorang sunni, pandangan-pandangan mistis-filosofisnya telah membuatnya lebih dekat kepada syi’ah. Secara formal ia tidak pernah beralih kepada syi’ah, tetapi pandangan-pandangannya itu diadopsi oleh banyak ulama Syi’i. Bahkan sampai hari ini, metafisika Ibn ‘Arabi bersama dengan metafisika Suhrawardi, guru Iluminasi (syaikh al-isyrak), membentuk dasar pandangan dunia filsafat gnostik para intelektual Muslim Iran. Misalnya, sumbangan metafisika Ibn ‘Arabi dapat ditemukan pada penagruhnya terhadap Mulla Sadra, filsuf terbesar Syi’i.

2)       Bidang Seni Sastra[26]
            Di antara para ulama islam, para sufi adalah kelompok yang paling menghargai dan paling besar perahtiannya terhadap seni dan sastra. Cinta, penghargaan, dan perhatian para sufi terhadap seni dan sastra telah mendorong merekamenciptakan karya-karya seni dan sastra yang tidak ternilai harganya. Kreativitas mereka ini telah menempatkan tasawuf sebagai unsur yang memperkaya peradaban islam dalam bidang seni dan sastra. Dalam bidang sastra yang dikembangkan para sastrawan sufi, khususnya para penyair sufi, sebagai ekspresi pengalaman spiritual dan sekaligus sebagai media untuk menyampaikan pesan moral sufi, syair adalah bentuk yang lebih menonjol dan karena itu lebuh terkenal daripada prosa.
            Syair sufi telah diubah dalam berbagai bahasa. Pada mulanya, pada abad IX M bahasa arab telah digunakan sebagi media untuk menyampaikan ekspresi mistis dalam syair, yang diikuti oleh bahasa Persia sejak abad Xi M. Kemudian para sufi mulai menggubah syair dalam bahasa Turki India kuno pada abad XIII M. Begitu juga bahasa-bahasa di Afrika dan Asia digunakan oleh para sufi  sebagai media untuk mengarang syair secara terus-menerus hingga saat ini.
            Rabi’ah al-Adawiyah adalah sufi perempuan yang menuangkan rasa cintanya yang begitu bergelora kepada Tuhan sebagi satu-satunya Kekasih. Bait-bait syairnya sering dikutip oleh para pengagumnya sanpai hari ini. Diantara bait-bait itu adalah sebagai berikut :
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
Karena takut pada neraka, bakarlah aku didalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu,
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu,
Demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
Yang abadi padaku.
            Rabi’ah tidak hanya unggul dalam syair, tetapi juga dalam do’a-do’a prosadik. Karena penyesalnnya akan kehidupan sebelumnya yang penuh dosa, ia tetap terbakar dalam api Cinta Ilahi hingga kematiannya pada usia 87 tahun.
            Syair-syair al-Hallaj yang cerdas dan penuh gairah terkenal karena daya pesonanya yang kuat. Beberapa syairnya memaknai cinta sebagai penyatuan diri dengan Tuhan, seperti ucapannya :
            Aku adalah Dia yang kucintai,
            dan Dia yang kucintai adalah Aku,
            kami adalah dua roh yang bertempat dalam satu tubuh
            jika engkau melihat aku, engkau melihat-Nya,
            jika engkau melihat-Nya, engkau melihat kami
            Sebagian besar karya al-Hallaj telah hilang, kecuali Diwan dan kitab al-Thawasin yang tetap bertahan sebagai kesaksian atas keterampilan puitisnya yang luar biasa.
            Bagimanapun, nama Jalaludin Rumi tidak boleh dilupakan karena ia adalah penyair sufi Persia terbesar. Ia adalah penulis korpus syair lirik terbesar dalam sastra Persia, Diwan-i Syams-i Tabriz dan epik mistis, Matsnawi. Karya Rumi yang paling terkenal, Matsnawi , yang disebut oleh Jami sebagai “al-Qur’an dalam bahasa Persia”, telah menginspirasi nbanyak karya salam bahasa-bahasaTurki sampai Shindi, bahkan seluruh sekolah-sekolah musik menyanyikan bait-baitnya yang menghipnotis. Reynold A. Nicholson, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menerjemahkan seluruh karya Rumi dalam bahasa Inggris, menyebut Rumi adalah penyair sufi terbesr yang pernah hidup.
            Bait-bait awal pembukaan untuk Matsnawi mengungkapkan tema karya terbesarnya itu dalam bahasa simbolik.
            Dengarlah nyanyi Seruling Bambu
            Mendesah selalu, sejuk direnggut
Dari rumpunnya yang dulu, alunan
Lagu pedih dan cinta membara.
“Rahasia nyanyianku, meski dekat,
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman tahu isyarat
Mendekap segenap jiwanya dengan jiwaku !
Ini nyala Cinta yang membakarku,
Ini anggur Cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pecinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan seruling!”
            “Nyanyian” seruling yang berasal dari peraduannya adalah kerinduan jiwa manusia yang terpisah dari sumbernya. Bait-bait ini membimbing jiwa untuk kembali ke Tempat Asal, tempat yang selalu ia rindukan dan kepadanyalah pada akhirnya ia akan kembali. Nada seruling yang juga menjadi ciri khas musik tarekat Maulawiyah memunculkan kenangan akan kampung halaman asal, sebuah kenangan paling dalam yang dirasakan oleh orang-orang yang didorong oleh daya tarik surga dalam kehidupan ini dan orang-rang yang tetap mendapat bimbingan utama Rumi.
3)      Musik dan Tari[27]
            Sumbangan lain tasawuf bagi peradaban islam adalah musik dan tarian. Konser musik spiritual yang disertai pembacaan syair, pujian atau doa disebut Sama’ (yang secara harfiah berarti “pendengaran”). Pada akhir abad IX M, Sama’ telah menjadi praktek yang dilakukan leh sebagian para sufi, dan secara tipikal disertai oleh tarian. Sebagian besar ahli fiqih dan sebagaian para sufi memandang musik dan tarian sebagai praktik yang diharamkan leh hukum syari’at. Sebaliknya, para sufi yang mempraktikkan Sama’ memberikan berbagai argumen syari’at untuk membuktikan keabsahannya. Tetapi alasan dasar keabsahan praktik Sama’ bagi para sufi adalah “membangkitkan zikir kepada Allah dalam hati”. Ada sesuatu dalam musik, menuntut mereka, yang bisa membawa manusia kedalam alam yang tidak dapat dilihat, kepada asal mereka sendiri dalam “ketiadaan”, kedalam alam tempat Allah masih mengatakan kata azali-Nya kepada mereka.
            Tujuan Sama’ adalah memperkuat zikir kepada Allah dan mengbarkan nyala api yang membakar habis segala sesuatu kecuali Sang Kekasih. Bagi anggota perkumpulan Sama’ musik adalah bahasa rahasia tanda-tanda Tuhan bersinar yang dapat didengar. Ketika mendengar bahasa rahasia itu, jiwa manusia  mengingat tempat kediaman asalnya pada hari Alastu ketika kedekatan kepada Tuhan adalah rumah alaminya, jiwa mengingat Perjanjian Alastu ketika Tuhan mengadakan perjanjian dengan Adam dan keturunannya, dengan mengatakan, “Bukanlah Aku (Alastu) Tuhanmu?,” yang dijawab leh mereka dengan jawaban, “Ya! Kami bersaksi.” Musik bagi para sufi bukanlah tujuan, tetapi adalah cara membangkitkan gairah kalbu untuk mengingat Tuhan.
            Di banyak wilayah dunia islam para sufi mengembangkan musik dengan warna masing-masing yang berbeda, yang dipengaruhi oleh warna masing-masing musik dari berbagi wilayah dan lokal. Jean-Louis michon, seorang sarjana Perancis yang memiliki keahlian tentang Islam di Afrika Utara, seni Islam, dan Tasawuf, mengungkapkan bahwa di Turki, misalnya, musik spiritual dari jenis musik klasik mewarisi tidak hanya mode-mode melodi Arab, Byzantium, dan Persia, tetapi juga mengambil suara-suara dan ritme-ritme yang berasal dari padang-padang rumput Asia dan berabad-abad banyak menyerap hal-hal yang berhubungan dengan dunia mistikal.
            Di India bagian utara, unsur Hindu dan unsur islam telah menjadi satu sintesis penting dalam seni musik yang di mulai sejak perkembangan Islam di India pada abad XII dan XIII M. Tradisi musik sufi India dan Pakistan yang paling penting terkenal adalah musik tarekat Chistiyah. Musik tarekat ini lebih dikenal dengan sebutan Qawwali (dari kata arab qawwal yang berarti “yang banyak berkata”). Ernst melaporkanbahwa biasanya penampilan Qawwali merupakan ritual yang sangat terstruktur, yang dilaksanakan di ribath-ribath sufi pada peringatan wafatnya para wali terkenal atau pada perayaan besar hari keagamaan lain. Kamis sore biasanya adalah saat yang baik untuk mengunjungi ribath-ribath Chisti jika para pengunjung ingin melihat penampilan qawwali.



4)      Bidang Psikologi[28]
            Sumbangan tasawuf bagi peradaban islam yang tidak kalah penting adalah sumbangannya bagi perkembangan psiklogi, yang dapat di sebut psikologi sufi atau psikologi spiritual. Tasawuf dapat dipandanga sebagai penyucian jiwa atau hati untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini berarti bahwa tasawuf berkaitan langsung dengan jiwa atau hati. Berbeda dengan psikologi pada umumnya, psikologi sufi berkaitan tidak hanya dengan jiwa (nafs, psyche) atau persoalan-persoalan kejiwaan tetapi juga dengan roh (ruh spirit) atau persoalan-persoalan kerohanian. Karena itu, lebih tepat jika psikologi sufi disebut “psikologi spiritual” atau “spiritologi”. Ia lebih merupakan “spiritologi”, atau “ruhologi”, ketimbang “psikologi”, atau “nafsiologi”.
            Tasawuf memberikan sebuah pendekatan yang benar-benar holistic terhadap psikologi spiritual yang membuat roh menghindari bahaya-bahaya linear dan hirarkis yang banyak ditemukan dalam banyak system spiritual, model-model yang telah banyak digunakan untuk membenarkan penindasan terhadap para perempuan dan para minoritas. Didalam tasawuf, secara mutlak tidak ada pembedaan-pembedaan spiritual antara para laki-laki dan para perempuan, atau antara ras-ras atau kebangsaan-kebangsaan yang berbeda.
            Model psikologi sufi memadukan aspek-aspek fisik, psikologis, dan spiritual. Aspek fisik kehidupan kita ditopang oleh kearifan roh-roh mineral, nabati, hewani sejak dahulu kala. Keberfungsian psikologis kita berakar pada roh personal, yang terletak pada otak dan merupakan tempat kediaman egodan kecerdasan. Natur spiritual kita adalah lompatan kualitatif melampaui natur-natur fisik dan psikis (yang kedua-duanya berakar pada tubuh fisik dan eksistensi materi kita). Roh insani, roh rahasia, dan roh rahasia dari rahasia terdapat dalam hati spiritual nonmaterial. Roh insani adalah tempat kediaman kasih sayang dan kreativitas. Roh rahasia adalah tempat zikir kepada Tuhan, dan roh rahasia dari rahasia adalah yang tidak terbatas, percikan ilahi di dalam diri kita.
            Semua guru sufi adalah psikiater spiritual, dokter yang mengobati penyakit spiritual. apabila praktik tasawuf adalah obat, maka guru sufi adalah dokternya. lalu, pasiennya siapa? Pasien adalah para darwis yang melakukan praktik tasawuf di bawah bimbingan guru. Sebenarnya siapu pun menderita penyakit spiritual sejauh ia tidak hidup sesuai dengan potensial-potensialnya sebagai manusia. Sayangnya, kebanyakan orang tidak sadar bahwa mereka menderita penyakit spiritual, dan, karena itu, mereka merasa tidak membutuhkan obat untuk menyembuhkan mereka dari penyakit itu. Manusia yang sehat secara spiritual adalah manusia yang selalu mengingat Tuhan dalam semua keadaan, di mana saja dan kapan saja. Dengan kata lain, manusia yang sehat secara spiritual adalah manusia yang hidup senantiasa dalam kehadiran Tuhan. Akar penyakit spiritual adalah keterpisahan dari Tuhan yang merupakan asal segala sesuatu.

5)      Bidang Sains Modern[29]
            Sumbangan lain tasawuf yang sangat mengagumkan, jika bukan mengagetkan, bagi peradaban islam, adalah sumbangannya untuk menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan sains modern, khususnya fisika. Fritjof Capra, seorang ahli fisika yang telah melakukan penelitian dalam fisika energi-tinggi di beberapa universitas Eropa dan Amerika, melalui karyanya The Tao of Physics dapat membantu kita menjelaskan kesamaan-kesamaan antara tasawuf dan fisika modern. karya Fritjof Capra The Tao of Physics sering dijadikan rujukan dan sekaligus contoh yang sangat bagus oleh para sarjana dan pemikir untuk menunjukkan kesamaan-kesamaan antara sains modern dan mistisisme Timur, yang diwakili oleh Hinduisme, Buddhisne, dan Taoisme. karya ini dapat mendorong dan membantu pemikir-pemikir muslim untuk mencari kesamaan-kesamaan antara fisika modern dan tasawuf karena kesamaan-kesamaan antara tasawuf dan mistisisme Timur. Karya Toshihiko Izutsu Sufism and Taoisme adalah contoh yang sangat bagus dari suatu kajian perbandingan yang menunjukkan kesamaan-kesamaan antara konsep-konsep filosofis kunci dalam tasawuf yang diwakili oleh Ibn ‘Arabi, pada satu pihak, dan konsep-konsep filosofis kunci dalam Taoisme yang diwakili oleh Lao-tzu dan Chuang-tzu, pada pihak lain. Jika benar tasawuf dan Taoisme memiliki kesamaan-kesamaan dalam konsep-konsep filosofis kunci,   tasawuf dan fisika modern juga memiliki kesamaan-kesamaan sebagaimana kesamaan-kesamaan yang dimiliki bersama oleh fisika modern dan Taoisme.
            Fritjof Capra mengatakan bahwa para mistikus Timur mengungkapkan pengetahuan mereka dengan kata-kata dengan bantuan mitos-mitos, simbol-simbol, gambaran-gambaran puitis atau pernyataan-pernyatan paradoksikal, sedangkan para fisikawan modern mengungkapkan pengetahuan mereka dengan model-model dan teoti-teori verbal. model-model dan teori-teori verbal mesti tidak akurat. Model-model dan teori-teori itu adalah imbangan mitos-mitos, simbol-simbol, gambaran-gambaran puitis Timur. Baik para mistikus Timur maupun para fisikawan modern menyadari benar keterbatasan bahasa dan berfikir “linear”. Pikiran mempunyai peranan yang amat penting dalam mengonstruksi realitas. Capra mengatakan bahwa teori quantum menunjukkan bahwa “struktur-struktur dan denomena-fenomena yang kita amati di alam tidak lain daripada ciptaan pikiran kita yang mengukur dan mengkategorisasikan”. Teori quantum menjelaskan bahwa fenomena-fenomena hanya dapat dipahami sebagai hubungan-hubungan dalam suatu rantai proses, yang berujung pada kesadran pengamat. Capra mengutip kata-kata Eugene Wigner, “Tidaklah mungkin merumuskan hukum-hukum (teori quantum) dalam suatu cara yang sepenuhnya konsisten tanpa merujuk pada kesadaran”.
            Karakteristik epistemologis fisika modern dan mistisisme Timur ini memiliki kesaman dengan karakteristik epistemologis tasawuf bahwa apa yang diketahui diwarnai oleh siapa yang mengetahui. Dengan mengutip kata-kata al-Junaid, seorang sufi besar dari Baghdad, Ibn ‘Arabi berkata ; “warna air adalah warna bejana yang ditempatinya” (Lawn al-ma’ lawn ‘ina’ihi).
menurut capra, karakteristik terpenting pandangan dunia timur adalah kesadaran tentang kesatuan dan interrelasi timbale balik segala sesuatu dan peristiwa, pengalaman akan semua fenomena di dunia sebagai manifestasi-manifestasi dari suatu kesatuan dasar. segala sesuatu di lihat sebagai bagian-bagian keseluruhan kosmik yang saling tergantung dan tidak dapat di pisahkan, sebagai manifestasi-manifestasi dari realitas terakhir yang sama. realitas terakhir ini, yang menampakkan dirinya dalam segala sesuatu, disebut brahman dalam hinduisme dharmakaya dalam buddhisme, dan tao dalam taoisme. capra memandang bahwa kesatuan dasar alam semesta bukan hanya karakteristik sentral pengalaman mistis, tetapi juga adalah salah satu penyingkapan (rahasia) terpenting fisika modern. kesatuan dasar itu menjadi jelas pada tingkat atomik dan semaki memanifestasikan dirinya ketika seseorang masuk lebih dalam kedalam materi, turun kedalam wilayah partikel-partikel subatomik. berbagai model fisika subatomik mengungkapkan pengetahuan yang sama: bahwa unsur-unsur pokok materi dan fenomena-fenomena dasar yang meliputi unsu-unsur pokok itu semuanya saling terkait, dan tergantung; bahwa semuanya tidak bisa dipahami sebagi entitas-entitasyang terpisah, tetapi sebagai bagian-bagian keseluruhan yang terintegrasi.
            Konsep kesatuan dasar segala sesuatu dalam mistisisme Timur, pada intinya, sama dengan konsep kesatuan wujud (wahdatul wujud) dalam tasawuf Ibn ‘Arabi dan mazhabnya. Sebagaimana mistisisme timur, tasawuf mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam wujud kecuali Tuhan, hanya ada satu wujud hakiki, yaitu Tuhan. segala sesuatu selain tuhan tidak ada pada dirinya sendiri; segala sesuatu itu hanya ada sejauh memanifestasikan wujud Tuhan. Alam adalah lokus penampakan diri tuhan. Kesamaan kesatuan dasar segala sesuatu dalam mistisisme Timur dan wahdatul wujud dalam tasawuf dengan mudah dapat mendorong para pengkaji untuk mengambil kesimpulan bahwa wahdatul wujud memiliki kesamaan dengan kesatuan alam semesta sebagai penyingkapan fisika modern.
            Para mistikus Timur memiliki suatu pandangan dinamis tentang alam semesta yang serupa dengan pandangan fisika modern, dan akibatnya tidak mengejutkan bahwa mereka juga menggunakan gambaran tarian untuk memberitahukan intuisi mereka tentang alam. Tarian kosmik ini disimbolkan dengan sangat indah dalam Hinduisme dengan tarian Shiva. “Menurut kepercayaan Hindu, semua kehidupan adalah bagian dari suatu proses ritmis besar dari penciptaan dan penghancuran, dari kematian dan kelahiran kembali, dan tarian Shiva menyimbolka ritme kehidupan-kematian abadi ini yang berlangsung dalam siklus yang tidak pernah berakhir.”
            Teori para mistikus Timur dan para fisikawan modern bahwa alam bergerak dan berubah terus menerus,menjadi dan hancur berulang-ulang tanpa berhenti, serupa dengan teori para sufi bahwa alam sebagai penampakan diri (tajalli) Tuhan diciptakan terus-menerus. penciptaan alam, atau proses penciptaan alam, identik dengan tajalli. karena tajalli terjadi secara terus-menerus tanpa awal dan tanpa akhir, “yang selama lamanya ada dan akan selalu ada,” maka penciptaan alam juga terjadi terus-menerus. Tuhan ber-tajalli dalam bentuk-bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Bentuk-bentuk itu tidak ada yang sama dan tidak pernah dan tidak akan terulang secara persis sama. Semuanya terjadi dalam perubahan terus menerus tanpa berhenti. Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa apa yang terdapat dalam alam berubah dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Alam temporal berubah setiap kejap. Alam nafas berubah pada setiap nafas dan alam tajalli berubah pada setiap tajalli, Allah Swt. berfirman:

                        Artinya : “setiap waktu dia dalam kesibukan” [30]
            Ibn ‘Arabi mengutip kata-kata Abu Thalib dan Rijal allah : “sesungguhnya allah swt selama-lamanya tidak melakukan tajalli dalam satu bentuk bagi dua individu atau pribadi,dan tidak pula dalam satu bentuk dua kali.”








DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata. 1996. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT.Raja Grapindo Persada
Mukhlis. 2008. Tasawuf yang Dipuja Tasawuf yang Dikutuk. Yogyakarta: Genta Press
Muhamin. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurangi Benang Kusut Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada
Ismail Thoib. 2009. Wacana Baru Pendidikan: Meretas Filsafat Pendidikan Islam. Mataram: Alam Tara Institute
Nur Uhbiyati. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia
Susanto. 2009. Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah
Zuhairini Muchtarom, dkk. 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara















[1] Muhamin. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurangi Benang Kusut Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2006). hlm. 15
[2] Susanto. Pemikiran Pendidikan Islam. (Jakarta: Amzah, 2009). hlm. 5
[3] Ibid. hlm. 6
[4] Susanto. Loc.cit.
[5] Zuhairini Muchtarom, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2010) hlm. 13
[6] Muhaimin. Op. cit. hlm. 15
[7] Ismail Thoib. Wacana Baru Pendidikan: Meretas Filsafat Pendidikan Islam (Mataram: Alam Tara Institute, 2009) hlm. 16
[8] Q.S. Al-Mujadalah ayat 11
[9] Ismail Thoib. Op. cit. hlm. 17
[10] Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia. 1999) hlm. 50
[11] Ibid. hlm. 18
[12] Ibid. 20
[13] Ibid. 21
[14] Ibid. 23
[15] Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT.Raja Grapindo Persada, 1996) hlm. 303
[16] Abuddin Nata. Loc. cit.
[17] Abuddin Nata. Loc.cit.
[18] Abuddin Nata. Loc.cit.
[19] Ibid. 304
[20] Abuddin Nata. Loc.cit.
[21] Loc.cit.
[22] Mukhlis. Tasawuf yang di puja Tasawuf yang dikutuk. (Yogyakarta: Genta Press, 2008) hlm. xv
[23] Ibid. hlm. xv
[24] Ibid. hlm. xvi
[25]  Mukhlis. Loc. cit.
[26] Ibid. xvii
[27] Ibid. hlm. xx
[28] Ibid. hlm. xxii
[29] Ibid. hlm. xxiv
[30] Q.S. Al-Rahman ayat 29

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar